Wisata Sejarah Kalimantan Barat-Tugu Khatulistiwa
Indonesia adalah negeri yang kaya akan tempat-tempat wisata yang menakjubkan dan dikenal luas oleh dunia, salah satunya adalah Kalimantan Barat yang memiliki banyak pesona keindahan alamnya yang tidak kalah menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan dalam negeri maupun wisatawan mancanegara. Kalimantan Barat merupakan suatu Provinsi yang terletak di Bagian Barat Pulau Kalimantan atau Borneo, yang beribukota di Kota Pontianak, serta berbatasan langsung dengan negara bagian Sarawak Malaysia. Wisata Kalimantan Barat juga menawarkan berbagai lokasi yang tak kalah menarik dari daerah-daerah lain di Indonesia, yang tentunya memanjakan para pengunjung dengan panorama yang menarik.
TUGU KHATULISTIWATugu Khatulistiwa atau Equator Monument berada di Jalan Khatulistiwa, Pontianak Utara, Provinsi Kalimantan Barat. Tugu Khatulistiwa merupakan ikon Kota Pontianak dan selalu dikunjungi masyarakat, terutama wisatawan yang datang ke Kota Pontianak.
Adapun sejarah mengenai pembangunan Tugu ini dapat dibaca pada catatan yang terdapat di dalam gedung. Adapun bentuk dari tugu ini telah mengalami perubahan sebanyak 4 (empat) kali yaitu :
1. Tugu pertama dibangun tahun 1928 berbentuk tonggak dengan anak panah.
2. Tahun 1930 disempurnakan, berbentuk tonggak dengan lingkaran dan anak panah.
3. Pada tahun 1938 dibangun kembali dengan penyempurnaan oleh arsitek Silaban. Tugu asli tersebut dapat dilihat di dalam gedung.
4. Pada tahun 1990, kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran lima kali lebih besar dari tugu aslinya. Peresmiannya pada tanggal 21 September 1991.
Peristiwa penting dan menakjubkan di Tugu Khatulistiwa adalah saat terjadinya titik Kulminasi matahari, yaitu fenomena alam ketika matahari tepat berada di garis Khatulistiwa. Pada saat itu matahari tepat berada di atas kepala sehingga menghilangkan semua bayangan benda-benda di permukaan bumi. Pada peristiwa titik kulminasi tersebut, bayangan Tugu akan “menghilang” beberapa detik saat terkena sinar matahari, demikian juga dengan bayangan-bayangan benda-benda lain di sekitar Tugu. Ini menandakan bahwa tugu ini benar-benar berada di garis lintang nol derajat.
Bagaimana garis nol derajat itu bisa ditemukan di Kota Pontianak? Nah, dari sebuah catatan yang diperoleh pada tahun 1941. Disebutkan bahwa pada 31 Maret 1928 telah datang di Pontianak satu ekspedisi internasional yang dipimpin seorang ahli geografi berkebangsaan Belanda. Ekspedisi ini merupakan sebuah perjalanan menuju Kota Pontianak untuk menentukan titik atau tonggak garis ekuator. Pada tahun 1928, berhasil dibangun tugu pertama berbentuk tonggak tanda panah. Tonggak itu kemudian disempurnakan tahun 1930. Selain diatasnya ada tanda panah, juga ada lingkaran. Setelah itu, arsitek Silaban pada tahun 1938 melakukan penyempurnaan dan membangun tugu yang baru.
Tugu inilah yang kemudian bentuknya sangat terkenal di dunia. Bangunan itu terdiri dari empat buah tonggak atau tiang dari kayu belian atau kayu ulin (kayu langka khas Kalimantan). Masing-masing tonggak berdiameter 0,30 meter. Dua tonggak bagian depan tingginya 3,05 meter dari permukaan tanah, sedangkan dua tonggak bagian belakang tempat lingkaran dan anak panah penunjuk arah tingginya 4,40 Diameter lingkaran yang bertuliskan "EUENAAR" 2,11 meter.
Panjang panah yang menunjuk arah lingkaran ekuator adalah 2,15 meter. Di bawah panah terdapat tulisan "109 derajat 20’0"OlvG" yang menunjukkan letak tugu itu berdiri pada garis bujur timur.
Pada tahun 1990 kembali Tugu Khatulistiwa tersebut direnovasi dengan pembuatan kubah untuk melindungi tugu asli serta pembuatan duplikat tugu dengan ukuran 5 kali lebih besar dari tugu yang asli. Tugu itu diresmikan pada tanggal 21 September 1991. Dan untuk memperindah bangunan, dibuatlah kawasan taman hingga ke pinggir Sungai Kapuas.
Pada bulan Maret 2005, sebuah tim dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengkoreksi lokasi titik nol garis khatulistiwa yang sebenarnya. Setelah melalui serangkaian pengkajian yang mendalam, tim dari BPPT menyimpulkan bahwa posisi 0 derajat, 0 menit, dan 0 detiknya ternyata berada sekitar 117 meter ke arah Sungai Kapuas dari lokasi tugu yang sekarang ini.
Keistimewaan Tugu Khatulistiwa
Garis khatulistiwa yang melewati Kota Pontianak merupakan satu-satunya garis khatulistiwa di dunia yang persis membelah bumi secara horizontal menjadi belahan utara dan belahan selatan. Maka, berdiri di titik lintang nol yang terdapat di tugu tersebut tentunya menjadi suatu kebanggaan tersendiri bagi pengunjung.Uniknya, bangunan tugu ini terbuat dari kayu ulin, bukan dari semen, sebagaimana bangunan tugu atau monumen pada umumnya. Pengunjung diperbolehkan melihat bangunan tugunya yang asli, melihat dokumentasi sejarah pembangunan tugu dari awal berdirinya hingga sekarang ini, sehingga pengunjung dapat memperoleh pengetahuan dasar tentang ilmu bumi dan astronomi. Di sana juga terdapat sebuah papan informasi yang menunjukkan statistik pengunjung baik domestik maupun mancanegara.
Tugu ini sangat ramai dikunjungi wisatawan pada saat terjadinya fenomena titik kulminasi matahari yang bersiklus dua kali setahun. Siklus yang terjadi pada tanggal 21-23 Maret dinamakan vernal equinox (titik pertemuan pertama) sebagai tanda awal musim semi, sedangkan siklus yang terjadi pada tanggal 21-23 September dinamakan autumnal equinox (titik pertemuan kedua) sebagai tanda awal musim gugur.
Meski hanya sekitar 5-10 menit, melihat langsung benda-benda yang berada di sekitar tugu tersebut tidak memiliki bayangan, tentu saja menimbulkan sensasi tersendiri yang sulit untuk dilukiskan bentuknya. Untuk merayakan dua momen tersebut, biasanya di kawasan tugu digelar berbagai kegiatan, seperti atraksi kesenian tradisional daerah setempat, pameran lukisan, dan lain sebagainya.
Hanya dengan membayar Rp 25.000,- saja, pengunjung akan mendapat sertifikat sebagai bukti bahwa ia pernah mengunjungi Tugu Khatulistiwa. Pada sertifikat tersebut terdapat foto yang bersangkutan dan tanda tangan Walikota Pontianak.
Pada sore hari, kawasan ini tepat sekali dijadikan sebagai tempat untuk bersantai bersama keluarga atau sekadar untuk melepas penat sehabis bekerja seharian. Pada malam hari, eksotisme kawasan ini kian terasa. Dari lokasi taman, pengunjung dapat menikmati keindahan Sungai Kapuas yang memanjang. Kerlap-kerlip lampu dari daerah seberang Sungai Kapuas menambah daya tarik objek wisata ini.Keistimewaan Tugu Khatulistiwa Pontianak tak hanya sebatas itu. Seperti diketahui, Tugu Khatulistiwa dibangun pada 1928 oleh tim ekspedisi geografi asal Belanda. Ketika itu, tidak ada alat canggih seperti satelit atau GPS sebagaimana teknologi terkini penjejak lokasi di muka Bumi. Mereka menggunakan ilmu astronomi (perbintangan) dengan berpedoman pada garis yang tidak rata (bergelombang) dan benda-benda alam seperti rasi bintang. Dengan ilmu falak tersebut, tim akhirnya mampu menentukan titik koordinat di lintang 0 derajat sebagai mana terekspresikan melalui Tugu Khatulistiwa.
Keunikan tugu tersebut mampu menyedot wisatawan bukan hanya domestik. Lebih dari itu, pelancong dari Brunei Darussalam, Malaysia (Serawak dan Kutching), serta Taiwan kerap terlihat mengunjungi kawasan tersebut.
Apalagi di musim liburan, mobil-mobil bernomor polisi asal Brunei, Serawak, dan Kutching kerap memadati areal parkir di sana. Penulis yang pernah menjajal tempat itu di siang hari merasakan bahwa, kendati suhu udara terasa panas menyengat, berada di titik koordinat Bumi di lintang 0 derajat memberi sensasi tersendiri.